ASUHAN KEPERAWATAN COLOSTOMY

Pengertian Colostomi

Colostomi adalah suatu operasi untuk membentuk suatu hubungan buatan antara colon dengan permukaan kulit pada dinding perut. Hubungan ini dapat bersifat sementara atau menetap selamanya. (llmu Bedah, Thiodorer Schrock, MD, 1983).

Colostomi dapat berupa secostomy, colostomy transversum, colostomy sigmoid, sedangkan colon accendens dan descendens sangat jarang dipergunakan untuk membuat colostomy karena kedua bagian tersebut terfixir retroperitoneal.

Colostomy pada bayi dan anak hampir selalu merupakan tindakan gawat darurat, sedang pada orang dewasa merupakan keadaan yang pathologis. Colostomy pada bayi dan anak biasanya bersifat sementara.


Indikasi Colostomy

Indikasi colostomy yang permanen

Pada penyakit usus yang ganas seperti carsinoma pada usus. Kondisi infeksi tertentu pada colon.

Komplikasi Colostomy

Prolaps merupakan penonjolan mukosa colon 6 cm atau lebih dari permukaan kulit.

Prolaps dapat dibagi 3 tingkatan:Penonjolan seluruh dinding colon termasuk peritonium kadang-kadang sampat loop ilium

Adanya strangulasi dan nekrosis pada usus yang mengalami penonjolan

Prolaps dapat terjadi oleh adanya faktor-faktor Peristaltik usus meningkat, fixasi usus tidak sempurna, mesocolon yang panjang, tekanan intra abdominal tinggi, dinding abdomen tipis dan tonusnya yang lemah serta kemungkinan omentum yang pendek dan tipis.

lritasi Kulit

Hal ini terutama pada colostomy sebelah kanan karena feces yang keluar mengandung enzim pencernaan yang bersifat iritatif. Juga terjadi karena cara membersihkan kulit yang kasar, salah memasang kantong dan tidak tahan akan plaster.

Diare

Makin ke proksimal colostominya makin encer feces yang keluar. Pada sigmoid biasanya normal.

Stenosis Stoma

Kontraktur lumen è terjadi penyempitan dari celahnya yang akan mengganggu pasase normal feses.

Hernia Paracolostomy

Pendarahan Stoma

Eviserasi

Dinding stoma terlepas dari dinding abdomen sehingga organ intra abdomen keluar melalui celah

lnfeksi luka operasi

Retraksi : karena fixasi yang kurang sempurna

Sepsis dan kematian

Untuk mencegah komplikasi, diperlukan colostomi dengan teknik benar serta perawatan pasca bedah yang baik, selain itu pre-operatif yang memadai.

HAL-HAL YANG PERLU DIKAJI PADA PASIEN KOLOSTOMI

>Keadaan stoma :

Warna stoma (normal warna kemerahan)

Tanda2 perdarahan (perdarahan luka operasi)

Tanda-tanda peradangan (tumor, rubor, color, dolor, fungsi laese)

Posisi stoma

Apakah ada perubahan eliminasi tinja :

Konsistensi, bau, warna feces

Apakah ada konstipasi / diare

Apakah feces tertampung dengan baik

Apakah pasien dapat mengurus feces sendiri

Apakah ada gangguan rasa nyeri :

Keluhan nyeri ada/tidak

Hal-hal yang menyebabkan nyeri

Kualitas nyeri

Kapan nyeri timbul (terus menerus / berulang)

Apakah pasien gelisah atau tidak

Apakah kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi

Tidur nyenyak/tidak

Apakah stoma mengganggu tidur/tidak

Adakah faktor lingkungan mempersulit tidur

Adakah faktor psikologis mempersulit tidur

Bagaimana konsep diri pasien Bagaimana persepsi pasien terhadap: identitas diri,harga diri,ideal diri,gambaran diri & peran

Apakah ada gangguan nutrisi :

Bagaimana nafsu makan klien

BB normal atau tidak

Bagaimana kebiasaan makan pasien

Makanan yang menyebabkan diarhe

Makanan yang menyebabkan konstipasi

Apakah pasien seorang yang terbuka ?

Maukah pasien mengungkapkan masalahnya

Dapatkah pasien beradaptasi dgn lingkungan

setelah tahu bag tubuhnya diangkat

Kaji kebutuhan klien akan kebutuhan seksual :

Tanyakan masalah kebutuhan seksual klien

Isteri/Suami memahami keadaan klien

Prioritas Perawatan Ditujukan Kepada:

Pengkajian mengenai penyesuaian psikologis

Pencegahan terhadap komplikasi

Pemberian dukungan untuk rnerawat diri sendiri

Menyediakan informasi

Kriteria Keberhasilan

Adanya perasaan penyesuaian yang aktual

Komplikasi dapat dicegah

Klien memenuhi kebutuhan sendiri

Adanya dukungan pelaksanaan pengobatan, mengetahui potensial terjadinya komplikasi

Dx. Keperawatan yg mungkin pada Colostomy

Potensial terjadinya gangguan eliminasi tinja (konstipasi atau diare) s.d kemungkinan diet yang tidak balans yang ditandai, dengan ….

Gangguan rasa nyaman nyeri s.d gangguan mekans kulit akibat tindakan operasi, ditandai dengan ….

Gangguan rasa nyaman s.d BAB yang tidak terkontrol, yang ditandai dengan ….

Gangguan istirahat dan tidur s.d adanya rasa takut pada keadaan stoma, ditandai dengan ….

Potensial gangguan nutrisi sehubungan dengan ketidaktahuan terhadap kebutuhan makanan

Gangguan konsep diri (gambaran diri, peran) s.d belum dapat beradaptasi dengan stoma dan perubahan anatomis, yang ditandai dengan ….

Potensial ggn integritas kulit s.d terkontaminasinya kulit dengan feces, ditandai dengan ….

Disfungsi seksualitas s.d perubahan struktur tubuh, yang ditandai dengan ….

Potensial terjadinya infeksi s.d adanya kontaminasi luka dengan feces, yang ditandai dengan ….

Cemas s.d takut terisolasi dari orang lain ….

Keterbatasan aktifitas s.d klien merasa takut untuk melakukan aktifitas karena stoma.

Tujuan dan Intervensi

Agar pasien dapat BAB dengan teratur :

Hindari makan makanan berefek laksatif

Hindari makan makanan yang menyebabkan konstipasi (makanan yang keras)

Kolaborasi dengan ahli gizi masalah menu makanan

Kontrol makanan yang dibawa dari rumah

Berikan minum yang cukup (2-3 1t/hari)

Pola makan yang teratur (3 kali sehari)

Agar rasa nyeri dapat berkurang :

Catat pemberian medikasi pada saat intra operatif

Evaluasi rasa nyeri dan karakteristiknya

Beri pengertian pada klien agar rasa nyeri diterima sebagai suatu yang wajar dlm batas tertentu

Berikan analgetik sebagai tindakan kolaborasi

Agar klien dapat tidur/istirahat yang cukup :

Jelaskan, stoma tidak akan terbuka pada saat tidur

Amati faktor lingkungan yang mempersulit tidur

Amati faktor psikologis yang mempersulit tidur

Agar kebutuhan nutrisi terpenuhi :

Bekerja sama dengan ahli gizi untuk menu makanan

Berikan gizi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan

Berikan motivasi agar tidak merasa takut menghabiskan makanannya

Agar tidak terjadi gangguan konsep diri :

Berikan dorongan semangat yang membesarkan hati

Hindari sikap asing pada keadaan penyakit pasien

Arahkan agar klien mampu merawat diri sendiri

Beri penjelasan agar klien dapat menerima keadaan dan beradaptasi terhadap stomanya

Hindarkan perilaku yang membuat pasien tersinggung (marah, jijik, dll)

Agar kebutuhan seksualitas dapat terpenuhi :

Beri penjelasan bahwa klien boleh melakukan hubungan seksual dengan wajar

Agar tidak terjadi gangguan integritas kulit :

Lakukan teknik perawatan baik (bersih)

Lindungi kulit dengan pelindung kulit (vaselin / skin barier) disekitar stoma

Letakan alas (kasa) yang dapat menyerap aliran feces

Untuk menghindari infeksi sekunder :

Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada stoma

Ajarkan klien tentang personal hygiene dan perawatan stoma

Untuk menghindari rasa cemas :

Berikan keyakinan bahwa klten mampu beradaptasi dengan lingkungan (masyarakat)

Agar klien tidak takut melakukan aktifitas

Berikan penjelasan masalah aktifitas yang tidak boleh dilakukan (olah raga sepak bola, lari)

Bila akan melakukan aktifitas kantong stoma diberi penyangga (ikat pinggang)

Evaluasi

Kebersihan stoma dan sekitarnya terjaga dengan baik :

Tidak ada tanda-tanda infeksi

Tidak tampak tanda-tanda gangguan integritas kulit

Stoma tidak mengalami penurunan

Klien dapat BAB dengan teratur dan lancar :

Frekuensi BAB teratur (1-2 kali sehari)

Pola BAB teratur

Tidak ada diare/konstipasi

Kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi :

–>KIien dapat tidur tenang (6-8 jam sehari)

Tidak ada faktor lingkungan dan psikologis yang mempersulit tidur

Klien kelihatan segar (tidak mengantuk)

Rasa nyeri dapat diantisipasi oleh klien sendiri

a.Tidak ada keluhan rasa nyeri

b. Wajah tampak ceria

5. Nutrisi dapat terpenuhi

Klien mau menghabiskan makanan yang diberikan

Tidak ada penyulit makan

BB seimbang

Tidak terjadi gangguan integritas kulit :

Tidak tampak tanda-tanda gangguan integritas kulit

(lecet)

Kebutuhan seksual terpenuhi

a. Isteri/Suami mau mengerti keadaan klien

b. Klien memahami dengan cara yang disarankan dalam melakukan hubungan seksual

8.lnfeksi tidak terjadi

Tidak ada tanda-tanda infeksi (rnerah, nyeri,

bengkak, panas)

9.Klien tidak cemas :

Klien terlihat tenang dan memahami keadaanya

10. Aktifitas klien tidak terganggu

Klien dapat melakukan aktifitas yang dianjurkan

PERAWATAN KOLOSTOMI (MENGGANTI KANTONG KOLOSTOMI)

Persiapan alat:

Sarung tangan

Handuk mandi

Air hangat

Sabun mandi

Tissue

–>Kantong colostomy

Bengkok/plastik keresek untuk tempat sampah

Kassa

Vaselin

Spidol

Plastik untuk guide size (mengukur stoma)

Gunting

Pelaksanaan

Dekatkan alat-alat ke klien

Pasang selimut mandi

Dekatkan bengkok ke dekat klien

Pasang sarung tangan

Buka kantung lama

Bersihkan stoma dan kulit sekitar stoma dengan sabun atau air hangat

Keringkan kulit sekitar stoma dengan tissue atau kassa

Lindungi stoma dengan tissue atau kassa agar feces yang keluar lagi tidak mengotori kulit yang sudah dibersihkan

Ukur stoma dengan guide size untuk memilih kantung stoma yang sesuai

Pasang kantong stoma

Pastikan kantong stoma merekat dengan baik dan tidak bocor

Buka sarung tangan

Bereskan alat-alat

Cuci tangan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN AKUT MIOKARD INFAK (AMI)

Oleh rumahbisniss

Kategori: Materi Kuliah Keperawatan

Definisi

Akut Miokard Infark adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh karena sumbatan pada arteri koroner (Hudak & Galo ; 1997). Sumbatan akut terjadi oleh karena adanya aterosklerotik pada dinding arteri koroner sehingga menyubat aliran darah ke jaringan otot jantung.

Aterosklerotik adalah suatu penyakit pada ateri-arteri besar dan sedang dimana lesi lemak yang disebut Plak ateromatosa timbul pada permukaan dalam dinding arteri sehingga mepersempit bahkan menyumbat suplai aliran darah ke arteri bagian distal (Hudak & Gallo ; 1997).

Proses Terjadinya Infark

Thrombus menyumbat aliran darah arteri koroner       suplai nutrisis dan O2

Kebagian distal terhambat        sel otot jantung bagian distal mengalami hipoksia        iskhemik      infark      serat otot menggunakan sisa akhir oksigen daqlam darah      hemoglobin menjadi teroduksi secara total danmenjadi berwarna biru gelap      dindingarteri menjadi permiable      edmatosa sel      sel mati

Mekanisme Nyeri Pada AMI :

Sumbatan arteri kororner oleh thrmbus       suplai aliran darah kebagian distal terhambat       hipoksia jaringan      energi sel otot       menggunakan metabolisme CO2 (metabolisme anaerob)       menghasilkan asam laktat dan juga merangsang pengeluaran zat-zat iritatif lainnya seperti: histamin, kinin, atau enzim proteolitk selular      merangsang ujung-ujung syaraf reseptor nyeri di otot jantung       impuls nyeri dihantarkan melalui serat saraf aferen simpatis       thalamus       korteks serebri       serat saraf eferen       dipersepsikan nyeri.

Perangsang syaraf simpatis yang berlebihan akan menyebabkan:

1.   Meningkatkan kerja jantung dengan menstamulasi SA Node sehingga menghasilkan frekuensi denyut jantung lebih dari normal       takhikardi

2. Merangsang kelenjar keringat       ekresi keringat yang berlebihan

3. Menekan kerja parasimpatis       gerakan peristaltic menurun       akumulasi caiaran disaluran pencernaan       regurgitasi       rasa penuh dilambung       merangsang pusat mual / muntah

4. vasokontriksi pembuluh darah ferifer       alir balik darah vena ke atrium kanan meningkat       tekanan darang meningkat

Faktor Resiko Terjadinya AMI (menurut Framingharm’s)

  1. Hiperkolesterolemia > 275 mg/dl
  2. merokok sigaret > 20 batang/hari
  3. kegemukan >120% dari berat badan ideal
  4. hipertensi >160/90 mmHg
  5. gaya hidup monoton

Tanda dan Gejala yang timbul pada AMI

  1. Nyeri hebat pada dada kiri menyebar ke bahu kiri, leher kiri dan lengan atas kiri
  2. Takhikardi
  3. Keringat banyak sekali
  4. Kadang mual bahkan muntah
  5. Dispnea
  6. Pada pemeriksaan EKG
  1. Fase hiperakut (beberapa jam permulaan serangan)

- Elevasi yang curam dari segmen ST

- Gelombang T yang tinggi dan lebar

- VAT memanjang

- Gelombang Q tampak

  1. Fase perkembangan penuh (1-2 hari kemudian)

- Gelombang Q patologis

- Elevasi segmen ST yang cembung ke atas

- Gelombang T yang terbalik (arrowhead)

  1. Fase resolusi (beberapa minggu /bulan kemudian)

- Gelombang Q patologis tetap ada

- Segmen ST mengkin sudah kembali iseolektris

- Gelombang T mungkin sudah menjadi normal

  1. Pada pemeriksaan darah (enzim jantung : CK & LDH)
  1. Creatinin kinase (CK) meningkat pada 6-8 jam setelah awitan infark dan memuncak antara 24 & 28 jam pertama. Pada 2-4 hari setelah awitan AMI normal
  2. Dehidrogenase laktat (LDH) mulai tampak melihat pada serum setelah 24 jam pertama setelah awitan dan akan tinggi selama 7-10 hari.

Enzim

Meningkat

Puncak

Kembali normal

CK

3-8 jam

10-30 jam

2-3 hari

CK-MB

3-6 jam

10-24 jam

2-3 hari

CK-MB2

1-6 jam

4-8 jam

12-48 jam

LDH

14-24 jam

48-72 jam

7-14 hari

LDH1

14-24 jam

48-72 jam

7-14 hari

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HIPERTENSI

Oleh rumahbisniss

Kategori: Uncategorized

Definisi

● Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yangdibawa oleh darah, terhambat sampai kejaringan tubuh yang membutuhkannya.

● Hipertensi sering kali disebut sabagai pembuluh gelap karena termasuk penyakit yang mematikan.

Tekanan darah terdiri dari 2 bagian tekanan, yaitu:

- Tekanan Sistoliok, tekanan yang terjadi bila otot jantung berdenyut memompa untuk mendorong darah keluar melalui arteri.

- Tekanan Diastolik, saat otot jantung beristirahat membiarkan darah kembali masuk kejantung.

Gejala yang ditimbulkan dari hipertensi, adalah:

- Sakit kepala

- Jantung berdebar-debar

- Sulit bernafas saaat beraktifitas

- Mudah lelah

- Penglihatan kabur

- Dunia terasa berputar

- Wajah memerah

- Hidung berdarah

- Sering buang air kencing pada malam hari

- Telinga berdenging

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hipertensi

- Katup semiluinar kaku

- Pembuluh darah kaku/tidak elastis, sempit

- Tinggiya beban awal

Bahaya Hipertensi

Membiarkan hipertensi berarti membiarkan jantung bekerja lebih keras dan membiarkan proses perusakan dinding pembuluh darah berlangsung dengan lebih cepat. Selain itu hipetensi juga mengakibatakan:

- Penyait jantung koroner

- Payah jantung

- Stroke

- Kerusakan ginjal

- Kerusakan penglihatan

Kondisi Hipertensi Menurut Tekanan Darah

KONDISI

SISTOLIK

(mmHg)

DIASTOLIK

(mmHg)

APA YANG HARUS

DILAKUKAN

Hipetesi stadium 3

Lebih dari 180

Lebih dari 110

Segera hubungi dokter

Hipertensi stadium 2

160-180

100-110

Segera hubungi dokter

Hipertesi stadium 1

140-160

90-100

Cek dua bulan sekali

Normal tinggi

130-140

85-90

Cek sebulan sekali

Normal

120-130

80-85

Cek setahun sekali

Paling baik (optimal)

Kurang dari 120

Kuang dari 80

Cek dua tahun sekali, bila sia diatas 45 tahun

Dasar Data Pengkajian Pasien

- Aktivitas / Istirahat

Gejala: Kelemahan, letih, apas pendek, gaya hidup monoton.

Tanda: Frekues jatung meningkat

Perbahan irama jantung

- Sirkulasi

Gejala: riwayat hipertensi, penyait jantung koroner/katup

Tanda: Kenaikan tekanan darah

Bunyi jantung: terdengar S2 pada dasar, S3 (CHF dini), S4 (pengerasan ventrikel/hipertropi ventrikel kiri)

Murmur stenosis valvular

Kulit: Pucat, Sianosis

- Pernapasan

Gejala: Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas

Batuk dengan atau tanpa pembetukan sputum

Riwayat merokok

Tanda: Distres resfirasi atau penggunaan otot aksesori pernapasan

Bunyi napas tambahan (krakles/mengi)

Sianosis

. KONSEP DASAR PENDOKUMENTASIAN

Sebagai suatu informasi yang tertulis, dokumentasi keperawatan merupakan media komunikasi yang efektif antar profesi dalam suatu tim pelayanan kesehatan pasien. Disamping itu dokumentasi keperawatan bertujuan untuk perencanaan perawatan pasien sebagai indikator kualitas pelayanan kesehatan, sumber data untuk penelitian bagi pengembangan ilmu keperawatan, sebagai bahan bukti pertanggung jawaban dan pertanggunggugatan pelaksanaan asuhan keperawatan serta sebagai sarana pendidikan bagi para mahasiswa.

Dokumentasi dan pelaporan merupakan suatu metode untuk mengkomunikasikan suatu informasi yang berhubungan dengan manajemen pemeliharaan kesehatan. Dalam beberapa hal kesuksesan dari pelaksanaan proses keperawatan tergantung dari keakuratan dan komplitnya pelaporan dan ketepatan dalam penulisan pendokumentasian.

Beberapa jenis catatan digunakan sebagai alat komunikasi untuk menginformasikan keadaan klien. Meskipun setiap perusahaan menggunakan format yang berbeda, seluruh catatan mengandung informasi yang mendasar, yaitu :

1. Identifikasi klien dan data demografis

2. Informed Consent untuk tindakan

3. Riwayat keperawatan

4. Diagnosa atau masalah keperawatan

5. Rencana keperawatan (Nursing Care Plan)

6. Catatan tindakan keperawatan dan evaluasi

7. Riwayat medis

8. Diagnosa medis

9. Pesanan terapi

10. Catatan perkembangan medis dan kesehatan

11. Laporan pengkajian fisik

12. Laporan diagnostik studi

13. Rangkuman prosedur operasi

14. Rencana pulang dan rangkuman

Dalam penulisan dokumentasi keperawatan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Isi, Informasi yang ditulis harus lengkap , akurat, jelas, mengandung fakta (obyektif) dan tidak menggunakan istilah atau singkatan yang tidak umum. Benar, dimana informasi mengenai klien dan tindakan yang diberikan haruslah faktual. Catatan harus berisi deskripsi, informasi yang objektif dari apa-apa yang perawat lihat, dengar, rasa dan cium (Begerson, 1988)

2. Waktu, Dokumentasikan waktu setiap melakukan intervensi keperawatan. Up to Date, laporan yang terlambat merupakan suatu kelalaian yang serius dan menyebab kelambatan untuk memberikan suatu tindakan. Misalnya kesalahan dalam melaporkan penurunan tekanan darah dapat memperlambat pemberian obat yang diperlukan. Secara legal, kelambatan dari pelaporan dapat diinterpretasikan sebagai kelalaian.kegiatan untuk mengkomunikasikan hal ini mencakup :

a. vital sign

b. penatalaksanaan medis

c. persiapan dilakukan diagnostic test dan pembedahan

d. perubahan status

e. waktu masuk, pindah, pulang atau kematian klien

f. penatalaksanaan untuk perubahan status yang tiba-tiba.

3. Format , Gunakan format yang telah adasesuai dengan kebijaksanaan institusi pelayanan kesehatan

4. Kerahasiaan, komunikasi yang rahasia adalah informasi yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang dipercaya dan merahasiakan bahwa beberapa informasi itu tidak akan diungkapkan. Pasien mempunyai hak moral dan legal untuk memastikan bahwa informasi yang ada dalam catatan kesehatannya terjaga kerahasiaannya.

5. Akontabilitas, Berikan nama dan tanda tangan setiap melakukan intervensi keperawatan. jangan menggunakan penghapus atau tip-ex bila melakukan kesalahan dalam penulisan.

Catatan adalah sumber data yang bernilai dan digunakan oleh seluruh anggota tim kesehatan. Maksud dari catatan ini termasuk komunikasi, kemampuan finansial, pendidikan, pengkajian, riset, auditing dan aspek legal dokumentasi.

1.2. FAKTOR PENGHAMBAT PELAKSANAAN PENDOKUMENTASIAN

Banyak faktor yang merupakan hambatan dalam melaksanakan dokumentasi keperawatan, meskipun pada dasarnya proses keperawatan telah diterapkan. Berbagai hambatan tersebut meliputi :

a. Kurangnya pemahaman dasar-dasar dokumentasi keperawatan. hal ini bisa terjadi karena latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, sehingga tidak adanya keseragaman pelaksanaan dokumentasi keperawatan.

b. Kurangnya kesadaran akan pentingnya dokumentasi keperawatan. Penulisan dokumentasi keperawatan tidak mengacu pada standar yang sudah ditetapkan, sehingga terkadang tidak lengkap dan akurat.

c. Dokumentasi keperawatan dianggap beban. Banyaknya lembar format yang harus diisi untuk mencatat data dan intervensi keperawatan pada pasien membuat perawat terbebani.

d. Keterbatasan tenaga. Kurangnya tenaga perawat yang ada dalam suatu tatanan pelayanan kesehatan memungkinkan perawat bekerja hanya berorientasi pada tindakan saja. Tidak cukup waktu untuk menuliskan setiap tindakan yang telah diberikan pada lembar format dokumentasi keperawatan.

e. Ketiadaan pengadaan lembar format dokumentasi keperawatan oleh institusi

f. Tidak semua tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien dapat didokumentasikan dengan baik. Karena lembar format yang ada tidak menyediakan tempat (kolom untuk menuliskannya).

Disamping hal tersebut di atas adalah sikap perawat yang dalam melakukan dokumentasi saat ini hanya berorientasi pada kepentingan pribadi semata. Hal ini tidak hanya merugikan kepada pasien sebagai penerima jasa pelayanan keperawatan, tetapi juga perawat sebagai pelaksana pelayanan keperawatan.

1.3. PENGARUH PENDOKUMENTASIAN TERHADAP KEBERHASILAN TERAPI

Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan kesehatan, karena adanya dokumentasi yang baik, informasi mengenai keadaan kesehatan pasien dapat diketahui secara berkesinambungan. Disamping itu dokumentasi merupakan dokumen yang legal tentang pemberian asuhan keperawatan. dokumentasi dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien. Dokumentasi berdasarkan masalah terdiri dari format pengkajian, rencana keperawatan, catatan tindakan keperawatan dan catatan perkembangan pasien.

Sesuai dengan hal tersebut di atas, maka jikalau dalam pendokumentasian itu dilakukan dengan baik dan benar maka segala tindakan yang memerlukan tindak lanjut dan berkelanjutan akan dapat terobservasi sehingga hasil yang dicapai akan lebih baik dan program terapi akan dapat berhasil.

Dalam hal pencegahan terjadinya gangguan integritas kulit dan jaringan seorang perawat profesional pasti akan memberikan suatu intervensi latih mobilisasi, rubah posisi tidur tiap 2 jam sekali. Hal ini akan dapat lebih terlaksana dengan baik jikalau terdapatnya suatu format yang khusus dan berlangsung selama 24 jam, tidak hanya berbentuk tindakan yang dilakukan oleh per-shift.

Jadi sangat jelas sekali bahwa dengan adanya pendokumentasian yang nantinya akan menjadi suatu alat komunikasi antar perawat pada khususnya pada tiap pergantian shift, maka program terapi akan menjadi lebih mudah untuk dilaksanakan.

Contoh Askep Luka Bakar

Oleh rumahbisniss

Kategori: Uncategorized

1. Data

Data Subjektif : -

Data Objektif  :

v Sensitivitas terhadap nyeri

v Penurunan kemampuan fungsi tubuh

Etiologi:

Adanya stimulus nyeri → merangsang susunan saraf otonom→ mengaktifkan norephineprin → merangsang saraf simpatis → mengaktifasi RAS → mengaktifasi kerja organ→ menurunkan REM → pasien terjaga

Masalah :

Kurang tidur berhubungan dengan rasa sakit yang dirasakan saat tidur.

NOC (Tujuan) :

v Pemulihan energi saat tidur

v Perasaan segar setelah tidur

v Tidak ada gangguan pada jumlah jam tidur

v Tidak ada gangguan pada pola, kualitas, dan rutinitas tidur

NIC ( Intervensi ) :

v Monitor pola tidur pasien dan catat hubungan faktor- faktor fisik ( nyeri / ketidaknyamanan)

v Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat selama sakit

v Bantu pasien untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang menyebabkan kurang tidur

v Fasilitasi untuk mempertahankan rutinitas waktu untuk tidur pasien atau keperluan sebelum tidur, serta benda- benda familiar

v Memonitor TTV (tanda- tanda vital) untuk melihat pemulihan energi

v Membatasi pengunjung

  1. Data

Data Subjektif :  -

Data Objektif           :

v HB          : 10,2 Gr/dl

v Leukosit : 13000

v Suhu       : 37,8 ’C

v Albumin : 1,9 ( Imunosupresan )

v Tidak adekuat pertahanan tubuh primer ( kulit tidak utuh, trauma jaringan )

Etiologi :

Luka bakar → kehilangan barier kulit → problem thermoregulasi → Netrofil terjebak di zona statis → jika invasi mikroorganisme patogen → resiko infeksi

Masalah :

Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan resiko masuknya  organisme patogen

NOC ( Tujuan) :

v Terbebas dari tanda dan gejala infeksi

v Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko

v Menunjukan hygine pribadi yang adekuat

NIC ( Intervensi ) :

v Monitor tanda dan gejala infeksi

v Monitor hasil laboratorium ( Albumin, HB, Leukosit )

v Instruksikan untuk menjaga hygine pribadi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi

v Ajarkan pasien dan keluarganya akan tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya ke pusat kesehatan

v Berikan terafi antibiotik ( Amicasin )

  1. Data

Data Subjektif : -

Data Objektif  :

v TD             : 140/90 mmHg

v Nadi          : 100 kali/menit

v Respirasi   : 26 kali/menit

v Perubahan dalam nafsu makan

v Gangguan tidur

Etiologi :

Luka bakar → kerusakan jaringan → pelepasan histamin, bradikinin, serotinin, dan prostaglandin →  merangsang serabut saraf afferen dan saraf- saraf nyeri → medula spinalis → Neospinothalamus → Cortex Cerebri → nyeri dipersepsikan

Masalah :

Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik

NOC ( Tujuan ) :

v Perubahan dalam kecepatan pernapasan, denyut jantung atau TD

v Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri

v Menunjukan teknik relaksasi secara individu yang efektif untuk mencapai kenyamanan

NIC ( Intervensi ) :

v Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan/ durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, atau keparahan nyeri, dan faktor prespitasinya.

v Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, seberapa lama akan berlangsung, dll

v Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakolgi, misalnya : relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, hipnosis, dll

v Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan

v Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terafi analgetik ( Tramadol )

  1. Data

Data Subjektif : -

Data Objektif  :

v TD : 140/90 mmHg

v Albumin : 1,9

v Mual

v Penurunan Berat badan

v Tidak napsu makan

Etiologi :

Adanya stressor nyeri →merangsang saraf simpatis → menekan saraf parasimpatis

→ peristaltik usus menurun → efek lambung menurun → merangsang reflek vagal → merangsang vomiting centre → mual

Masalah :

Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya mual

NOC ( Tujuan ) :

v Menyatakan keinginan untuk diet (makanan, TKTP )

v Mempertahankan masa tubuh dan BB dalam batas normal

BMI normal : 20 – 25

v Nilai laboratorium (misalnya : transferin, albumin, dan elektrolit ) dalam batas normal

NIC ( Intervensi ) :

v Monitor kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan

v Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya

v Monitor adanya peningkatan atau penurunan BB

v Ketahui makanan kesukaan pasien selama tidak ada kontraindikasi

v Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet TKTP ( Tinggi kalori tinggi protein )

v Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terafi antiemetik ( Ranitidin )

About these ads
Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: